Laman

artikel Museum Geologi


GEOLOGI SEBAGAI GEOWISATA
Saat ini banyak sekali pilihan untuk mengisi waktu liburan,bermacam-macam tempat wisata tersedia,dari tempat hiburan rekreasi hingga tempat wisata yang menyuguhkan ilmu pengetahuan. Apalagi di Kota Bandung ini,banyak tempat wisata dari mulai wisata alam,pemandian,mall,distro,sajian kuliner,atau bahkan Museum sekalipun. Ya,siapa yang tak kenal dengan museum? Museum merupakan suatu tempat yang di dalamnya berisikan benda-benda peniggalan bersejarah ataupun berisi pengetahuan tentang alam dan kehidupan manusia. Salah satu museum yang terdapat di kawasan kota Bandung,yang masih banyak diminati baik oleh warga Bandung sendiri maupun yang datang berkunjung dari luar kota Bandung ,yaitu museum Geologi yang berada di Jalan Diponegoro No.57. Museum ini didirikan pada pertengahan Mei 1928,dan pada tahun 1999 musem ini sempat mengalami renovasi yang di danai oleh JICA (Japan International Cooperation Agency). Museum ini tutup selama satu tahun dan kembali dibuka dan diresmikan pada tanggal 23 Agustus 2000 yang diresmikan oleh Wakil Presiden RI,Megawati Soekarno Putri yang didampingi oleh Menteri Pertambangan dan Energi Bapak Susilo Bambang Yudhoyono. Pada awalnya museum ini berfungsi sebagai laboratorium dan tempat penyimpanan hasil penyelidikan geologi dan pertambangan dari berbagai wilayah Indonesia lalu berkembang lagi bukan saja sebagai sarana penelitian namun berfungsi pula sebagai sarana pendidikan, penyedia berbagai informasi tentang ilmu kebumian dan objek pariwisata. Tapi seiring dengan perkembangan jaman dari waktu ke waktu membuat fungsi museum ini berubah. Dan sekarang museum ini berfungsi sebagai tempat pendidikan luar sekolah yang berkaitan dengan bumi dan usaha pelestariannya. Lalu di museum ini juga sebagai tempat orang melakukan kajian awal sebelum penelitian lapangan. Dimana Museum Geologi sebagai pusat informasi ilmu kebumian yang menggambarkan keadaan geologi bumi Indonesia dalam bentuk kumpulan peraga,dan sebagai tempat wisata Geowisata.
Pada masa penjajahan dulu,saat Indonesia masih dikuasai oleh Belanda keberadaan Museum Geologi berkaitan erat dengan sejarah penyelidikan geologi dan tambang di wilayah Nusantara yang dimulai sejak pertengahan abad ke-17 oleh para ahli Eropa. Setelah Eropa mengalami revolusi industri pada pertengahan abad ke-18,Eropa sangat membutuhkan bahan tambang sebagai bahan dasar industri. Pemerintah Belanda sadar akan pentingnya penguasaan bahan galian di wilayah Nusantara. Melalui hal ini,diharapkan perkembangan industri di Negeri Belanda dapat ditunjang. Maka pada tahun 1850,dibentuklah Dienst van het Mijnwezen. Kelembagaan ini berganti nama jadi Dienst van den Mijnbouw pada tahun 1922,yang bertugas melakukan penyelidikan geologi serta sumberdaya mineral. Hasil penyelidikan yang berupa contoh-contoh batuan,mineral,fosil,laporan dan peta memerlukan tempat untuk penganalisaan dan penyimpanan,sehingga pada tahun 1928 Dienst van den Mijnbouw membangun gedung di Rembrandt Straat Bandung. Gedung tersebut pada awalnya bernamaGeologisch Laboratorium yang kemudian juga disebut Geologisch Museum. Gedung Geologisch Laboratorium dirancang dengan gaya Art Deco oleh arsitek Ir. Menalda van Schouwenburg,dan dibangun selama 11 bulan dengan 300 pekerja serta menghabiskan dana sebesar 400 Gulden. Pembangunannya dimulai pada pertengahan tahun 1928 dan diresmikan pada tanggal 16 Mei 1929. Peresmian tersebut bertepatan dengan penyelenggaraan Kongres Ilmu Pengetahuan Pasifik ke-4 (Fourth Pacific Science Congress) yang diselenggarakan di Bandung pada tanggal 18-24 Mei 1929.
Setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945,pengelolaan Museum Geologi berada dibawah Pusat Djawatan Tambang dan Geologi (PDTG/1945-1950). Pada tanggal 19 September 1945,pasukan sekutu pimpinan Amerika Serikat dan Inggris yang diboncengi oleh Netherlands Indiës Civil Administration (NICA) tiba di Indonesia. Mereka mendarat di Tanjungpriuk,Jakarta. Di Bandung,mereka berusaha menguasai kembali kantor PDTG yang sudah dikuasai oleh para pemerintah Indonesia. Tekanan yang dilancarkan oleh pasukan Belanda memaksa kantor PDTG dipindahkan ke Jl. Braga No. 3 dan No. 8, Bandung,pada tanggal 12 Desember 1945. Kepindahan kantor PDTG rupanya terdorong pula oleh gugurnya seorang pengemudi bernama Sakiman dalam rangka berjuang mempertahankan kantor PDTG. Pada waktu itu,Tentara Republik Indonesia Divisi III Siliwangi mendirikan Bagian Tambang,yang tenaganya diambil dari PDTG. Setelah kantor di Rembrandt Straat ditinggalkan oleh pegawai PDTG,pasukan Belanda mendirikan lagi kantor yang bernama Geologische Dienst ditempat yang sama. Di mana-mana terjadi pertempuran. Maka,sejak Desember 1945 sampai dengan Desember 1949,yaitu selama 4 tahun berturut-turut,kantor PDTG terlunta-lunta berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Pemerintah Indonesia berusaha menyelamatkan dokumen-dokumen hasil penelitian geologi. Hal ini menyebabkan dokumen-dokumen tersebut harus berpindah tempat dari Bandung,ke Tasikmalaya,Solo,Magelang,Yogyakarta,dan baru kemudian,pada tahun 1950 dokumen-dokumen tersebut dapat dikembalikan ke Bandung. Dalam usaha penyelamatan dokumen-dokumen tersebut,pada tanggal 7 Mei 1949 Kepala Pusat Jawatan Tambang dan Geologi,Arie Frederic Lasut,telah diculik dan dibunuh tentara Belanda. Ia telah gugur sebagai kusuma bangsa di Desa Pakem,Yogyakarta. Sekembalinya ke Bandung,Museum Geologi mulai mendapat perhatian dari pemerintah RI. Hal ini terbukti pada tahun 1960,Museum Geologi dikunjungi oleh Presiden Pertama RI, Ir. Soekarno. Pengelolaan Museum Geologi yang semula berada dibawah PUSAT DJAWATAN TAMBANG DAN GEOLOGI (PDTG),berganti nama menjadi: Djawatan Pertambangan Republik Indonesia (1950-1952),Djawatan Geologi (1952-1956),Pusat Djawatan Geologi (1956-1957),Djawatan Geologi (1957-1963),Direktorat Geologi (1963-1978),Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi (1978 - 2005),Pusat Survei Geologi (sejak akhir tahun 2005 hingga sekarang). Dan sekarang,dengan penataan yang baru ini peragaan Museum Geologi terbagi menjadi 3 ruangan yang meliputi Sejarah Kehidupan, Geologi Indonesia, serta Geologi dan Kehidupan Manusia. Koleksi benda yang menjadi favorit di museum ini yaitu adalah fosil tengkorak manusia pertama di dunia dan fosil homo erectus,lalu ada juga tiruan fosil-fosil kerangka binatang pra-sejarah seperti pithecantropus erectus,dan batu bintang seberat 156 kg yang jatuh pada 30 Maret 1884 di Jatipelangon, Madiun. Semua itu adalah hasil pencarian dari kerja lapangan di Indonesia semenjak tahun 1850. Sebagai sebuah monumen bersejarah,museum ini dianggap sebagai peninggalan nasional dan berada di bawah perlindungan pemerintah.
Museum ini buka tiap hari kecuali hari jumat dan hari libur nasional. Seperti manusia,museum ini butuh jeda waktu untuk beristirahat,karena para pengurus museum ini harus merawat koleksi benda-benda bersejarah di dalamnya. Tarif untuk memasuki museum ini pun terbilang sangat ekonomis,kita hanya perlu mengeluarkan kocek sebesar Rp.2000,- saja. Dan untuk para pelajar mereka dikenakan tarif yang lebih murah yaitu Rp.1500,- . Bahkan untuk pelajar yang datang berombongan mereka hanya cukup membayar Rp. 1000,- tiap orangnya. Oleh karena itu tempat ini sangat baik untuk menjadi pilihan untuk kita mengisi waktu luang. Dan untuk para orang tua,anda sudah selayaknya membawa putra-putri anda tempat yang sarat akan ilmu pengetahuan ini. Karena disini para anak-anak tidak dituntut untuk belajar,tapi rasa keingintahuan mereka akan timbul dengan sendirinya. Tugas kita hanya membimbing,mengawasi dan mengarahkannya saja. Sangat mudah bukan,sambil kita mengajak mereka berwisata sekaligus kita menambah wawasan mereka.
 Bayu Prima Samade

comment 0 comments:

Poskan Komentar

 
© [C]ommunication [B] | Design by Blog template in collaboration with Concert Tickets, and Menopause symptoms
Powered by Blogger